PENTINGNYA SERAT UNTUK TUBUH travelinks.org

Tahukah Anda bahwa ada makanan dan minuman tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan? Menurut International Food Information Council Foundation (IFICF), sebelum tubuh bisa mendapat manfaat dari makanan dan minuman yang kita konsumsi, sistem pencernaan harus mencerna makanan dan minuman tersebut menjadi bentuk yang dapat diserap tubuh. Tentu saja, makanan dan minuman yang kita makan sangat mempengaruhi kerja sistem pencernaan.

Pertama, mari memahami sedikit tentang sistem pencernaan. Sistem pencernaan merupakan sebuah sistem yang terdiri dari semua bagian tubuh yang yang kita pakai untuk mengunyah, menelan, menyerap makanan dan membersihkan tubuh dari sisa pencernaan. Nutrisi, termasuk karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral dicerna dan diserap ke dalam darah melalui mulut, perut, usus dan organ pencernaan lainnya. Tubuh menggunakan nutrisi ini untuk membangun dan menutrisi sel tubuh, juga sebagai sumber energi untuk proses tubuh yang lain.

Saat tubuh stres, sistem pencernaan pun terpengaruh. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi, seperti pola makan yang tidak baik, perjalanan, perubahan hormon, efek samping obat dan lain-lain. Cerdas memilih makanan dan olahraga dapat membantu mengatasi masalah dan menjaga sistem pencernaan tetap sehat.

Serat dan cairan

Serat punya peran penting karena fungsinya adalah menyapu semua hal tak dibutuhkan yang dicerna oleh perncernaan. Serat bisa kita anggap sebagai ‘tukang sapu’ yang akan menjaga tubuh tetap bersih.

Serat dapat ditemukan di hampir semua makanan nabati. Ini termasuk buah-buahan, sayuran dan kacang- kacangan. Perempuan berusia 14-50 tahun seharusnya mengkonsumsi minimal 25 gram serat setiap hari, sedangkan pria perlu 30 gram.

Minumlah banyak cairan yang akan membantu kerja serat. Buah-buahan, yang mengandung banyak air dan serat, bisa membantu melancarkan pencernaan.

Berikut ini beberapa alternatif menambahkan serat ke dalam diet sehari-hari menurut IFICF:

– Penuhi setengah bagian piring Anda dengan buah dan sayuran. Setengahnya lagi dengan daging tanpa lemak dan whole grain.

– Tambahkan salad dalam makanan dan makan buah sebagai penutup

– Tambahkan sayuran dan kacang-kacangan saat memasak apapun

– Sarapanlah dengan sereal yang terbuat dari biji-bijian dan campur dengan irisan buah

– Makanlah buah atau sayuran mentah dan kacang-kacangan sebagai camilan

- Minumlah minuman berserat dengan mencampurkan minuman panas anda dengan agar-agar instan. Dapat dicari tahu di myagarpac.com

Silakan dicoba!

Suatu siang, tiga tahun silam. Saya datang ke sekretariat IKAPI Yogyakarta, untuk kumpulan rutin setiap Rabu. Sampai di sana, tumben-tumben saya lihat ada Mas Indra Ismawan, bos grup penerbit Media Pressindo.

“Halo Mas, lama nggak ketemu, kok tambah gemuk aja? Hehehe,” sapa saya. Memang cukup lama saya nggak jumpa miliuner rendah hati yang satu itu. Dan pas kali itu ketemu, badannya beneran kelihatan subur.

“Iyo, memang gemuk nih. Soale habis berhenti merokok,” jawab Mas Indra.

Saya njenggelek. Waini, topik menarik ini. Saya langsung mupeng pingin dengar ceritanya. Maka saya pun menginterogasi Mas Indra.

“Aku setop merokok lumayan lama, tiga bulan. Berat badan langsung naik 10 kilo,” kisahnya. Saya mulai nggelar tikar dan ngaduk kopi, menyimak. Segeralah terbangun hipotesis di kepala: berhenti merokok itu benar-benar menyehatkan.

“Tapi,” Mas Indra melanjutkan, “akhirnya aku putuskan merokok lagi.”

“Lho!! Kok??” atas nama pencarian kebenaran, saya nggak boleh begitu saja setuju keputusan politik Si Bos.

“Begini, simpel saja,” jawabnya. “Kalau aku lanjutin setop merokoknya, pasti aku tambah gemuk. Sementara kita lihat, mana ada orang obesitas bertahan sampe tua? Kalau ketemu perokok berat hidup sampe 90 atau 100 tahun sih sering. Tapi lihat orang obesitas bertahan hidup sampe umur segitu? Pernah, ‘po?”

Saya tertegun. Paten nih orang. Cara berpikirnya jauh dari linier. Dia sama sekali tidak membaca persoalan secara serta-merta, lewat permukaan saja, semisal: “Hmm.. karena berhenti merokok aku jadi gemuk. Gemuk berarti sehat. Jadi kalau mau sehat, berhentilah merokok.” Tidak, tidak. Manusia di depan saya itu punya pikiran yang melompat jauh ke luar kotak. Untung sampeyan nggak fesbukan, Mas, batin saya. Coba main fesbuk, pasti sudah dibuli sama kimcil-kimcil. Hahaha.

***

Suatu malam saya sowan ke Dipowinatan, kediaman penyair gaek Iman Budhi Santosa. Sambil mengisap 76-nya, beliau menelanjangi makna slamet dalam masyarakat Jawa. Kata Mas Iman, slamet dalam kosmologi Jawa berbeda jauh dengan selamat dalam pemahaman standar perspektif dunia modern.

“Dalam pemikiran modern, yang disebut keselamatan melulu terkait fisik. Orang naik kendaraan dan sampai tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Orang yang fisiknya terlindungi, aman dan nyaman, disebut selamat. Sebaliknya, orang yang terkena gangguan fisik, atau bahkan mati, otomatis dikatakan tidak selamat. Cuma begitu itu. Jadi orang tidak paham dengan kematian Mbah Marijan yang mengawal Gunung Merapi, misalnya. Apa benar Mbah Marijan tidak selamat? Dalam kacamata orang Jawa, Mbah Marijan itu slamet. Slamet. Orang gagal mengerti, karena apa yang ada dalam sudut pandang mereka tak lebih dari perkara jasmani belaka.”

Mas Iman melanjutkan dengan konsep kesehatan modern. “Urusan Departemen Kesehatan itu kan cuma kesehatan jasmani saja to,” sambungnya. “Mana pernah mereka menempatkan sektor kesehatan jiwa dalam proporsi penting? Padahal persoalan masyarakat kita kebanyakan akibat problem ketidaksehatan jiwa. Penyakit fisik memang ada. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak penyakit jiwa. Anehnya, segi ini nyaris dianggap tidak ada oleh Departemen Kesehatan. Jadi ya nggak heran, ketika para ahli

kesehatan menilai masalah rokok, yang dibahas cuma sudut pandang kesehatan fisik..”

***

Mengenang obrolan bersama Mas Indra Ismawan dan Mas Iman Budhi Santosa, saya jadi merenung-renungkan lagi arti “out of the box”. Tak bisa disangkal, poin-poin pikiran kedua orang perokok berat itu jauh dari standar. Ada batas-batas pagar yang mereka lompati, di saat semua orang nyaman-damai dan tak berani membayangkan apa-apa yang ada nun di luar pagar. Saya jadi ingat dialog lama yang terjadi antara Syekh Abu Hayyun dan seorang mbak-mbak unyu aktipis antitembakau.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mbak,” kata Syekh Abu Hayyun mantap. Wajah aktipis LSM antitembakau yang bertamu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini,” lanjut Syekh. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti.. mm.. gerakan-gerakan salat. Harus tuma’ninah istilahnya, Mbak. Sedot, tenang, pengendapan sesaat, baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi, sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Syekh? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktipis kimcil tampak nggak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Syekh memberi kode tangan, agar si aktipis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mbak! Nah, bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Syekh. Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam speedboat yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semua-muanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemua mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa..”

“Stop! Stop!! Please, Syekh. Please! I said: ba-ha-ya! Please explain the ba-ha-ya!!”

“Hehe, iya, iya, Mbak. Maaf. Saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.” Syekh ber-tuma’ninah sesaat. “Sebab.. yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.”

viagra prodej

viagra cena lekaren
Pembuatan Serbuk Rumput Laut (menggunakan prinsip kristalisasi) dengan tahapan:
1) Pencucian dan penghalusan.
Rumput laut bersih kemudian direndam hingga mengembang. Setelah mengembang rumput laut tadi dihaluskan dengan menggunakan blender hingga menjadi bubur;

2) Pemasakan/kristalisasi.
Pemasakan merupakan proses terakhir dari pembuatan serbuk instan rumput laut. Pemasakan atau kristalisasi disini merupakan proses pemberian panas pada bahan (sari rumput laut dan sari penambah rasa) sampai terbentuk kristal. Api yang digunakan adalah api kecil (suhu dibawah 100oC) dan dengan pengadukan terus-menerus. Pengadukan ini dimaksudkan agar rumput laut bercampur merata dengan essens dan untuk menghindari terjadinya karamelisasi. Pemakaian panas yang tinggi akan berpengaruh pada kualitas produk, menyebabkan karamelisasi dan hilangnya beberapa kandungan zat dalam rumput laut. Bentuk kristal yang telah didapat kemudian dihancurkan untuk kemudian disaring, sehingga mendapatkan serbuk instant rumput laut yang halus dan seragam;

3) Pengeringan dan Pengayaan.
Serbuk yang telah dihancurkan, kemudian dikeringkan dan diayak hingga diperoleh rumput laut instan yang benar-benar lembut. Untuk serbuk yang belum lolos ayakan, dapat dihancurkan lagi. Rumput laut instan hasil pengayaan tersebut kemudian segera dikemas dalam kantong plastik ataupun toples; dan

4) Tahap Formulasi Minuman Instan Serbuk Rumput Laut.
Pada tahap ini dilakukan formulasi minuman. Formulasi didasarkan pada hasil percobaan terhadap karakteristik mutu organoleptik dari minuman instan. Pada tahap ini, produk akhir hasil formulasi minuman adalah bentuk serbuk dengan perbandingan gula sesuai dengan perlakuan dalam penelitian ini. Analisis yang dilakukan meliputi: analisis kimia (kadar air, kadar abu, kadar karbohidrat dan kadar serat kasar).



Wikipedia SiteWide Iklan Baris
wisata